Bongkar Rahasia Biosaka untuk Biostimulan Tanaman Cabai, KPMK Gelar Ngobrol Pertanian ke-20

Bongkar Rahasia Biosaka untuk Biostimulan Tanaman Cabai, KPMK Gelar Ngobrol Pertanian ke-20

Rabu, 09 September 2026

 


Jatinom, Klaten — Komunitas Petani Muda Klaten (KPMK) kembali menggelar agenda Ngobrol Pertanian (Ngoper) #20 dengan tema “Bongkar Rahasia Penggunaan Biosaka untuk Biostimulan Tanaman Cabai.” Kegiatan dilaksanakan pada Ahad, 6 September 2026, pukul 08.00–12.00 WIB, bertempat di Balai Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten.


Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari sejumlah desa di wilayah Jatinom, di antaranya Bengking, Tibayan, Kayumas, dan Temuireng. Kegiatan juga melibatkan BPP Jatinom beserta para penyuluh pertanian, sehingga forum menjadi ruang bertemunya pengalaman petani, komunitas, pemerintah desa, dan pendamping teknis pertanian.


Hadir sebagai narasumber, Kang Lilik (Biosaka Klaten), yang membedah lebih jauh mengenai Biosaka sebagai salah satu pendekatan biostimulan tanaman, khususnya dalam budidaya cabai.


Acara diawali dengan sambutan dari Pembina KPMK, yang menyampaikan kembali sejarah berdirinya KPMK serta perjalanan dan kiprah komunitas selama kurang lebih lima tahun. KPMK lahir dari semangat untuk membangun ruang belajar bersama bagi generasi muda dan petani, dengan menjadikan persoalan nyata di lapangan sebagai bahan untuk belajar, berdiskusi, dan mencari solusi bersama.


Dalam perjalanannya, KPMK terus berkembang dari ruang berkumpul menjadi komunitas yang mendorong berbagai kegiatan pertanian, seperti Ngobrol Pertanian, Ngaji Tani, Sekolah Lapang, pendampingan petani, hingga berbagai kegiatan kolaboratif dengan pemerintah desa dan lembaga terkait.


Semangat yang terus dibangun adalah bahwa pertanian tidak cukup hanya dibicarakan. Petani perlu belajar, mencoba, mengamati hasil, kemudian mengevaluasi dan membagikan pengalaman bersama.


Sementara itu, perwakilan Desa Randulanang menyampaikan sambutan dan menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Kolaborasi antara pemerintah desa, komunitas petani, BPP, penyuluh, dan masyarakat dinilai penting untuk memperkuat ekosistem pertanian sekaligus membuka ruang belajar yang lebih luas bagi petani.


Memasuki acara inti, Kang Lilik menyampaikan pemaparan mengenai Biosaka, mulai dari pemahaman dasar, proses pembuatan, hingga penggunaannya sebagai biostimulan tanaman. Materi kemudian tidak berhenti pada teori.


Peserta diajak mengikuti praktik langsung membuat Biosaka. Dengan dipandu narasumber, peserta bersama-sama mempraktikkan proses pembuatan Biosaka sekaligus berdiskusi mengenai pengalaman dan kondisi tanaman di lapangan, terutama tanaman cabai.


Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para peserta aktif bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman mengenai budidaya cabai serta berbagai persoalan yang mereka hadapi di lahan masing-masing.


Setelah sesi materi dan praktik selesai, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Momen tersebut menjadi ruang silaturahmi dan obrolan informal antara petani, penyuluh, pemerintah desa, narasumber, dan anggota KPMK.


Bagi KPMK, makan bersama bukan sekadar pelengkap acara, tetapi menjadi bagian dari semangat membangun rasa kebersamaan dan persaudaraan antarpelaku pertanian.


Sebelum kegiatan ditutup, peserta juga diminta mengisi form wawancara sebagai bagian dari pengumpulan data dan evaluasi. Data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dan pengalaman petani serta menjadi bahan untuk pengembangan kegiatan pendampingan KPMK selanjutnya.


Peserta kemudian mendapatkan Biosaka N-Level untuk dibawa pulang dan dimanfaatkan sebagai bahan praktik di lahan masing-masing. Penyelenggara juga memberikan sedikit tanda terima kasih sebagai pengganti transportasi kepada peserta yang telah hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.


Ngoper #20 terselenggara atas kerja sama perangkat Desa Randulanang, dalam hal ini Bapak Sugiyarto selaku Kepala Dusun (Kadus), dengan Komunitas Petani Muda Klaten (KPMK), serta melibatkan BPP dan penyuluh pertanian Jatinom


Kolaborasi ini menjadi gambaran bahwa penguatan pertanian membutuhkan kerja bersama. Pemerintah desa menghadirkan dukungan dan ruang kegiatan, komunitas membangun ruang belajar dan jejaring, sementara penyuluh memberikan pendampingan teknis kepada petani.


Bagi KPMK, Ngobrol Pertanian #20 bukan sekadar agenda pertemuan. Kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan komunitas dalam membangun budaya belajar petani, memperkuat jejaring, mengumpulkan data, dan mendorong praktik pertanian yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Dari ngobrol, menuju praktik. Dari praktik, menuju pembuktian. Dan dari pembuktian, diharapkan lahir gerakan pertanian yang semakin kuat—dari petani, oleh petani, dan untuk keberlanjutan pertanian.