Rangkuman Kegiatan Ngobrol Pertanian #18

ads-agrimat

Rangkuman Kegiatan Ngobrol Pertanian #18

Sabtu, 30 Mei 2026

 


Trucuk, 30 Mei 2026 – Komunitas Petani Maju Klaten (KPMK) kembali menyelenggarakan kegiatan Ngobrol Pertanian (Ngotan) #18 pada Sabtu, 30 Mei 2026, bertempat di Sanggar Kebangsaan Trucuk. Kegiatan yang rutin digelar sebagai ruang belajar dan berbagi pengalaman antar petani ini menghadirkan Bapak Wardiyono, Ketua LPPNU sekaligus penggerak pertanian alami, sebagai narasumber utama.


Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan dari Pembina KPMK, Yusuf Murdani, yang menyampaikan pentingnya membangun ruang diskusi dan pembelajaran bagi petani agar mampu menghadapi berbagai tantangan pertanian yang semakin kompleks. Kegiatan kemudian dipandu oleh Ketua KPMK, Muhammad Isa, selaku moderator.


Dalam pemaparannya, Bapak Wardiyono membuka diskusi dengan sebuah refleksi tentang kondisi petani dari masa ke masa. Ia mengibaratkan kehidupan petani tempo dulu seperti lirik lagu Koes Plus yang menggambarkan suasana "adem ayem", tenang dan penuh kepastian. Namun kondisi saat ini berbeda. Petani sering kali hidup dalam ketidakpastian dan rasa khawatir karena belum tentu berhasil panen akibat berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari menurunnya kesuburan tanah, serangan hama, hingga perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi.


Selanjutnya, Bapak Wardiyono menjelaskan konsep pertanian alami melalui tiga pokok bahasan utama. Pertama, syarat dasar manusia bisa hidup adalah makan, sehingga pertanian menjadi sektor yang sangat penting dalam menopang kehidupan. Kedua, ia mengulas sejarah pertanian di Indonesia, khususnya sejak era Revolusi Hijau yang membawa perubahan besar terhadap pola budidaya pertanian. Ketiga, ia menegaskan pentingnya menjalankan pertanian alami sebagai upaya mengembalikan kemandirian petani dan menjaga keberlanjutan lingkungan.


Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah persoalan mindset petani dan kondisi pertanian saat ini. Menurut Wardiyono, petani sering menghadapi situasi yang tidak menguntungkan, di mana saat musim tanam harga benih, pupuk, dan berbagai sarana produksi pertanian terus meningkat, sementara ketika musim panen tiba harga hasil pertanian justru sering jatuh. Kondisi tersebut membuat posisi petani semakin lemah dan bergantung pada pihak luar.


Karena itu, ia mengajak petani untuk membangun kemandirian dan kedaulatan dalam bertani, tidak terus-menerus bergantung pada benih, pupuk, maupun input pertanian dari pabrik. Semangat tersebut dirangkum dalam slogan yang sering digaungkan dalam gerakan pertanian alami, yaitu "Ora tuku, ora utang, gawe dewe" (tidak membeli, tidak berutang, membuat sendiri). Menurutnya, pertanian alami menjadi salah satu solusi agar petani dapat mengendalikan biaya produksi, menjaga kesehatan tanah, serta meningkatkan keberlanjutan usaha tani.


Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Pada sesi tanya jawab dan berbagi pengalaman, sedikitnya lima peserta menyampaikan cerita mengenai pengalaman mereka menerapkan pertanian alami di lahan masing-masing. Berbagai pengalaman dibagikan, mulai dari keberhasilan mengurangi biaya produksi, upaya membuat pupuk dan pestisida secara mandiri, hingga tantangan yang masih dihadapi dalam proses transisi dari pertanian konvensional menuju pertanian alami.


Beberapa peserta juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya aspek teknis budidaya, tetapi juga membangun keyakinan dan konsistensi dalam menjalankan sistem pertanian alami. Selain itu, masih adanya pengaruh kebiasaan lama serta keraguan sebagian petani menjadi pekerjaan rumah yang perlu dihadapi bersama.


Melalui kegiatan Ngobrol Pertanian #18 ini, peserta memperoleh wawasan baru tentang pentingnya membangun pertanian yang lebih mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan. Diskusi yang berlangsung tidak hanya menjadi sarana belajar, tetapi juga memperkuat jejaring dan semangat kolaborasi antarpetani untuk terus mengembangkan praktik pertanian alami di wilayah Klaten dan sekitarnya.